Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wisata Sejarah Lembah Bada Poso




Lembah Bada atau Lembah Napu adalah lembah yang terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Lembah bada adalah objek wisata yang sangat menarik di Sulawesi tengah.

Lembah bada termasuk kawasan lore lindu ini, banyak terdapat benda purbakala yang diperkirakan merupakan peninggalan masa prasejarah Austronesia. Patung Megalit ini adalah benda prasejarah yang langka
di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Amerika Latin (marquies Island).

Megalit di Lembah Bada ditemukan pertama kali pada 1908. Walaupun penemuan tersebut sudah berlangsung lebih dari 100 tahun, namun hanya sedikit hal yang diketahui tentang obyek itu, salah satunya tentang kapan patung batu itu dibuat.

Beberapa orang berspekulasi bahwa batu-batu tersebut dipahat sekitar 5.000 tahun lalu, sedangkan lainnya menduga megalit itu dibuat sekitar 1.000 tahun silam.


Patung Megalitik di Lembah Bada merupakan wajah manusia yang sudah distilasi, dimana alis dan hidung digambarkan menjadi satu, sedangkan bagian mulut dihilangkan. Patung di Lembah Bada umumnya memiliki tanda gender yang jelas. Di patung Palindo dan Meturu terukir gambar alat kelamin laki-laki. Dan sedangkan pada patung Langke Bulawa digambarkan alat kelamin wanita. Perbedaan gender juga digambarkan pada raut wajah, dimana pada patung wanita, wajahnya digambarkan seperti dahi yang tertutup poni.


Masyarakat lokal percaya bahwa batu itu dulunya digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap leluhur. Tak hanya itu, para penduduk juga mempunyai kisah tentang asal-usul terbentuknya megalit tersebut. Sebuah cerita mengatakan bahwa terdapat megalit bernama Tokala'ea yang dulunya merupakan pemerkosa, akhirnya dikutuk menjadi batu.

Sementara itu, terdapat cerita tentang megalit lain bernama Tadulako. Masyarakat mengatakan bahwa dulunya Tadulako dikenal sebagai penjaga desa, tetapi setelah mencuri beras ia dikutuk menjadi batu. Cerita lain mengaitkan megalitik dengan pengorbanan manusia. Beberapa orang juga percaya bahwa batu tersebut dimaksudkan untuk menangkal roh jahat, sementara yang lain mengklaim bahwa benda tersebut memiliki kekuatan supranatural dan mempu menghilang atau berpindah tempat.

Palindo, Torompana, Tarae Roe, dan Loga adalah sederet nama pemberian penduduk lokal untuk patung-patung kuno tersebut. Kisah unik pun turut menyertai setiap patung yang ada di lembah Bada, salah satunya Palindo. Dulunya, masyarakat lembah Bada percaya bahwa Palindo berdiri tegak.



Untuk mencapai ke Taman Nasional Lore Lindu bisa menggunakan mobil pribadi. Demi mencapai lembah Bada, penunjung harus melakoni perjalanan selama 3 jam jika langsung dari Kota Palu dengan menggunakan mini bus. Apabila dari Kota Palu menuju arah Kota Poso, bisa ditempuh selama 7-9 jam perjalanan. Dari Kota Poso menuju ke Tentena, kemudian menuju ke Lembah Bada bisa ditempuh selama 3 jam perjalanan. Jarak Lembah dari kota Poso kurang lebih 145 Km yang dapat ditempuh dengan kendaraan berpenggerak empat roda, atau bisa juga dari kabupaten sigi dengan jarak kurang lebih sama dengan menggunakan angkutan umum disambung perjalanan dengan ojek sepeda motor. Dari lembah Bada perjalanan dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki (trekking) ke Besoa dan Napu. Disarankan kendaraan pribadi harus benar-benar fit karena akses jalan apabila hujan akan berlumpur tebal.

Lembah ini juga dapat dijangkau dengan pesawat dari Makassar ke Poso, dari Poso dibutuhkan waktu 5 jam dengan kendaraan roda 4, dengan kondisi jalan sudah relatif baik.



Meski jalur yang dilalui begitu mendebarkan dengan rintangan sungai-sunga kecil, namun panorama di sepanjalang jalan ini sanggup mentransformasikan cemas jadi decak kagum.

Keberadaan ribuan artefak dan patung megalitikum di landscape memukau membuat lembah Bada punya rupa yang hampir mirip dengan pulau di selatan Samudra Pasifik. Bahkan, ada beberapa orang yang mengaitkan keberadaan patung kuno di lembah Bada dengan yang ada di pulau Paskah.


Selain dikenal akan patung-patungnya, Lembah Bada juga dikenal akan Kalambanya, yakni tangki melingkar yang dipahat dari sebuah batu besar.

Kalamba dapat ditemukan di beberapa tempat di Lembah Bada dan memiliki bentuk serta ukuran bervariasi. Beberapa memiliki satu lubang di tengahnya, sementara lainnya memiliki dua lubang.
Menurut kepercayaan lokal, Kalamba digunakan sebagai bak berendam untuk para petinggi atau raja. Sementara yang lainnya menduga bahwa benda tersebut dulunya digunakan sebagai peti mati atau tangki air.

Tutup terbuat dari batu sering ditemukan di dekat Kalamba, dan muncul dugaan bahwa benda tersebut digunakan untuk menutupi Kalamba sehingga tak mungkin digunakan sebagai bak berendam.

Dibalik berbagai macam spekulasi, hingga kini belum diketahui secara pasti detail tentang siapa, kapan, dan tujuan dibuatnya megalit tersebut.



Sebenarnya masih banyak situs megalitikum yang terkenal lainnya seperti Stonehenge di Inggris atau patung Moai di Pulau Paskah. Sama seperti situs-situs tersebut, situs Lembah Bada masih menyimpan segudang misteri yang belum terpecahkan. Jika anda berencana untuk mengunjungi tempat ini, jangan lupa mampir ke perkampungan Suku Lore yang nggak jauh dari lokasi.


Nah, bagi anda yang memutuskan untuk tinggal lebih lama bisa singgah di perkampungan tersebut. Penduduk Suku Lore tersebut akan menyambut kedatangan anda dengan sepenuh hati. Nantinya anda akan tidur di rumah tradisional, yaitu Rumah Tambi yang memiliki bentuk sangat unik. Bentuk rumah ini seperti rumah panggung lengkap dengan atap yang berbentuk piramida. Keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu dan bambu namun pada atapnya terbuat dari rumbia.



Situs megalitikum yang ada di Lembah bada juga disebut sebagai situs megalitikum terbesar di Indonesia. Dengan pemandangan sabana indah yang disuguhkan dan keramahan suku yang mendiaminya akan membuat nilai tambah untuk menarik wisatawan domestik maupun luar negeri.

Jika anda pergi ke tempat ini pasti akan merasakan atmosfer yang berbeda dan merasa seperti sedang ada di masa lampau. Jadi, kapan anda akan mengunjungi Lembah Bada?

1 comment for "Wisata Sejarah Lembah Bada Poso"